Trilogi Nuswantara

Fiksi sejarah selalu mempunyai tempatnya sendiri di hati pembaca. Ketegangan membedakan imajinasi dengan fakta sambil menikmati alur cerita dan buaian kata-kata, menghasilkan sensasi menyenangkan yang unik. Berbeda dengan membaca buku-buku jenis lain.
Victoria Tunggono telah memilih jalurnya sendiri dengan menuliskan trilogi ini. Mengakui peran besar kawan-kawannya di Turangga Seta sebagai pemasok data dan fakta sejarah, Tori–begitu sapaan Victoria–merajut cerita masa kini sambil sesekali melemparkan pembaca ke dimensi dimana kebudayaan tradisional kita meraja. Pembaca diajak membayangkan keindahan arsitektur dan busana tradisional menjadi keseharian yang modern.

Gerbang Nuswantara
Kata “nuswantara” memang kurang dikenal–dibandingkan “nusantara”. Jadi, upaya Tori mengangkat istilah ini perlu diacungi jempol.
Edisi pertama dengan cover bernuansa merah dan gambar gapura dirilis pada 2015. Tori memperkenalkan tokoh Rani dan sepupunya, Bima. Keduanya adalah anak muda masa kini yang berkenalan dengan sejarah leluhur melalui berbagai kejadian yang tidak biasa. Tanpa sengaja menemukan sebuah portal, mereka memasuki dunia yang luar biasa: tradisional sekaligus modern dan canggih.
Hal yang menarik dari buku ini adalah halaman-halaman yang dicetak dengan latar hitam. Kalau halaman-halaman putih merupakan cerita dari dimensi ini, halaman hitam menceritakan kisah dari dimensi “itu”. Dimensi dimana aji Jala Sutra, Jengkar Sakedeping Netra, dan Sasradara menjadi pelapisnya.

Candi Nuswantara
Buku kedua yang dirilis pada 2018 ini menceritakan perjalanan Bima menyusuri berbagai situs bersejarah untuk meminta izin membuka kembali portal yang tertutup, dengan Rani tertinggal di sana.
Bagi penggemar buku perjalanan, trilogi ini juga menarik karena mengajak kita menelusuri sumber-sumber air di daerah Jawa Barat, beserta cerita di baliknya. Mistis? Belum tentu. Mengutip cerita Tori, kata “mistis” adalah label yang diberikan manusia untuk hal-hal yang tidak dipahaminya. Jadi, kita bisa melihatnya sebagai sesuatu yang aneh dan menakutkan, atau justru sebagai pengakuan bahwa manusia ternyata tidak serbatahu.
Kata “candi” konon berasal dari kata “çandi” (dibaca syandi) yang artinya tidak jauh berbeda dari pemahaman kita sekarang: sandi atau kode. Tori mengajak pembacanya membuka rahasia dibalik situs-situs bersejarah tersebut.

Jagat Nuswantara
Menceritakan pengalaman Bima, Rani, dan Naditya–tokoh baru dalam buku Candi yang banyak berperan di buku Jagat. Ketiganya berada di dimensi “itu” dan menjalani petualangan yang seru sebelum kembali ke dimensi “ini”, karena mereka menghadapi peradaban yang berbeda. Pola pikir yang biasa digunakan harus di-reset. Tradisional tidak berarti kuno dan tertinggal.
Di sisi lain, di dimensi “ini”, ada cerita teman-teman mereka: Iwan, Dixie, Indra, dan Lalitha dalam menjalani hidup setelah berkenalan dengan dimensi “itu”–walaupun tidak benar-benar merasakan seperti Bima-Rani-Naditya. Buku ketiga ini lebih banyak mengajak pembacanya untuk merenungi makna keberadaan manusia di semesta. Dengan bahasa percakapan sehari-hari, pembacanya berkesempatan melongok ke dalam diri untuk mengenal peran apa yang menjadi tugasnya di sini. Filosofis bergaya pop!

Pandemi tampaknya menjadi berkah untuk Tori karena ia berhasil merampungkan buku ketiga sekaligus menyelesaikan trilogi yang dimulainya 6 tahun lalu. Rilisnya buku ketiga ini juga dibarengi dengan rilis ulang kedua buku pertama dengan desain cover baru yang lebih menunjukkan kaitan ketiga buku tersebut. Bahkan, ada pula pilihan untuk membeli paket Trilogi Nuswantara dalam boks yang keren untuk menjadi hadiah.
Tidak banyak penulis yang tertarik menggali sejarah dan fakta masa lalu. Dengan cara ini, sejarah bisa disajikan dengan menarik dan menyenangkan. Saya sungguh berharap segera ada cerita sejarah lain yang dibuat dalam bentuk populer seperti ini. Selamat menikmati kemegahan Nuswantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s