Kosmos

Buku lama ini tetap menarik dibaca karena detailnya yang luar biasa. Meskipun banyak istilah yang sulit, gaya penulisan yang seperti bercerita ini membuatnya tetap enak dibaca. Saya seperti membaca novel ilmiah saja. Meskipun beberapa kata tidak benar-benar saya mengerti, berhenti membaca juga bukan sebuah pilihan. Seru!
Kosmos ditulis sudah sangat lama, setidaknya saat Pluto masih dianggap sebagai planet dalam tata surya kita. Di edisi ini, informasi bahwa Pluto bukanlah planet sudah ditambahkan. Saya jadi merasa kembali jadi anak SD yang berkaryawisata ke Planetarium, membayangkan melihat bintang-bintang dan apa yang mungkin ada di luar sana.

Membaca Kosmos mengingatkan kita betapa kecilnya kita. Bumi yang bagi kita sudah cukup luas–berapa orang sih yang benar-benar sudah mendatangi setiap negara di bumi–ternyata cuma secuil dibandingkan luasnya ruang di luar sana. Sama seperti sebuah video yang pernah saya lihat di salah satu media sosial. Video itu menggambarkan seorang perempuan berbaring di taman. Lalu kameranya ditarik semakin tinggi sehingga kelihatan rumah, daerah lain, bumi, bulan, planet lain, dan seterusnya makin jauh. Lalu kameranya turun lagi sampai kepada perempuan yang sedang berbaring tadi, lalu masuk menembus matanya. Menunjukkan organ dalam, sel-sel darah, terus sampai bagian paling kecil dari tubuh manusia. Semua itulah kosmos.

Bahkan bahan dasar penyusun tubuh kita sama kok dengan bahan dasar penyusun planet–atau benda kosmis apapun. (Jangan tanya apa namanya, ya. Saya juga sudah lupa.) Mungkin karena itulah kita punya ketertarikan terhadap bintang-bintang. 

Mengingat betapa kecilnya kita, seharusnya kita tidak perlu mengganggap urusan kita sebagai yang terbesar, paling kompleks, dan seterusnya. Lha wong masih ada yang lebih besar dan lebih kompleks daripada bumi yang kita tinggali, kok. Woles saja! Dan, tak usahlah memperuncing perbedaan. Beda suku/ras/agama saja pusing, gimana kita mau bertemu dengan makhluk ekstrateresterial yang bentuknya entah seperti apa.

Karena saya baru saja selesai membaca Origin-nya Dan Brown, saya jadi teringat soal kemunculan pertama makhluk hidup. Alam menyintesa berbagai unsur yang–melalui proses adaptasi–kemudian bisa mengganda dan membentuk DNA yang menjadi bakal kehidupan. 

Di sini, tidak usahlah kita mempertanyakan Tuhan sebagai pencipta kehidupan. Kedua buku ini menunjukkan segala yang ilmiah tentang kosmos. Tapi tentu saja masih banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Semata-mata karena pengetahuan manusia memang belum sampai ke sana. Nah, kalau ada yang mengatakan bahwa hal-hal yang tidak bisa dijelaskan itu adalah wilayah Tuhan, ya boleh-boleh saja. Asalkan jangan menjadi pembenaran untuk berhenti mencari tahu. Kita mencari tahu bukan karena tidak percaya Tuhan, kok. Tetapi lebih karena pengetahuan itu memang harus dicari.

Janganlah dalam keyakinan kita terhadap sesuatu lantas kita menghancurkan sejarah. Manusia kehilangan tahun-tahun dimana kita harus mulai belajar lagi dari awal ketika Perpustakaan Alexandria dimusnahkan. Begitu banyak ilmu pengetahuan yang hilang bersamanya. Padahal kalau pengetahuan itu masih ada, manusia mungkin sudah melompat lebih maju dalam berbagai hal.

Buku ini ditutup dengan pertanyaan, apakah kita akan menggunakan ilmu pengetahuan yang kita miliki untuk memusnahkan diri sendiri atau untuk menjadi lebih maju lagi? Bahan yang sama digunakan untuk melontarkan senjata dan mengirim pesawat luar angkasa. Kita mau pakai untuk yang mana?

Iklan

Origin

images-151251309526.jpgFix jadi pengen ke Spanyol! ^_^
Terlepas dari ceritanya, saya selalu kagum bagaimana Dan Brown menggambarkan detail sebuah tempat. Misalnya saja, Museum Guggenheim di Bilbao, di halaman awal. Brown menyebutnya bangunan “dekonstruksi”, sembari memberi contoh lain: Disney Concert Hall di Los Angeles dan BMW World di Munich. Saking detailnya deskripsi Brown, saya buru-buru searching gambar bangunan-bangunan tersebut…, dan setelahnya saya paham kenapa Brown menyebutnya “dekonstruksi”. Bentuknya benar-benar nyeleneh!

Banyak sekali bangunan yang terlibat dalam Origin ini, dan Brown mendeskripsikannya sedemikian rupa sehingga saya sih penasaran banget untuk melihat bangunan aslinya. Terutama Sagrada Familia yang katanya masih dalam proses pembangunan selama puluhan tahun. Semoga rejeki, ya… ^_^

Ceritanya sendiri sebenarnya tentang artificial intellegent dan bagaimana interaksinya dengan manusia. Singkatnya, seluruh kekacauan yang terjadi dalam cerita itu adalah hasil kerja artificial intellegent bernama Winston. Dia mendapat tugas yang sangat jelas untuk membuat pengumuman temuan baru seorang ilmuwan bernama Kirsch ditonton oleh sebanyak mungkin orang.

Jadi, Winston membuat sebuah konspirasi dengan menggabungkan semua fakta yang diketahui tentang bisnya, Kirsch. Termasuk bahwa:

  • Kirsch sakit keras dan umurnya diperkirakan tidak lama lagi.
  • Karena penyakitnya, Kirsch pernah berpikir untuk bunuh diri.
  • Kirsch memiliki dendam pribadi terhadap Gereja Palmerian karena ibunya bunuh diri di sana.
  • Dan lain-lain.

Jadilah konspirasi itu. Mungkin menurut Winston, daripada mati atau bunuh diri karena penyakit, lebih baik kalau Kirsch mati dibunuh seorang jemaat Gereja Palmerian, tepat pada saat ia akan mengumumkan temuannya tentang asal manusia. Sebelumnya tentu sudah dihembuskan berita bahwa temuan itu akan mengguncangkan berbagai agama dan umatnya di seluruh dunia. Kerjaan siapa? Winston, tentu saja.

Di sisi lain, setelah Kirsch terbunuh, Winston membantu Langdon dan Vidal–direktur Museum Guggenheim, menemukan file Kirsch dan melanjutkan rencana Kirsch untuk mengumumkan temuannya. Saking pentingnya dan besarnya peran Winston, baik Langdon maupun Vidal sering lupa bahwa bagaimanapun Winston adalah mesin–dan membentuk ikatan emosional dengannya.

Kondisi diperkisruh dengan fakta bahwa Vidal adalah tunangan Pangeran Julian, calon raja Spanyol. Dugaan awal pembaca diarahkan untuk mencurigai permainan kekuasaan di istana. Apalagi digambarkan bahwa raja sedang sekarat, si pangeran belum ketahuan juntrungannya karena selama ini jadi anak manis yang patuh pada protokol istana, dan seorang uskup yang berkuasa–sahabat setia raja yang sekarat.

Tentu saja, baru di akhir cerita Langdon sadar bahwa dalang semuanya adalah Winston. Yang berarti, Winston juga yang membunuh Kirsch–mantan mahasiswa Langdon yang kemudian jadi ilmuwan dan miliarder terkenal. Mengerikan ya kalau artificial intellegent jadi lebih kreatif daripada manusianya…. Untungnya, Winston ini memang program yang “taat”. Dia diprogram untuk menghapus dirinya sendiri pada pukul 13 pertama setelah kematian Kirsch. Apakah Kirsch tahu rencana pembunuhan oleh Winston dengan tujuan untuk menarik minat dunia atas pengumuman temuannya? Entahlah..

Istana Spanyol punya urusannya sendiri. Setelah Ratu meninggal dunia, Raja tidak mau menikah lagi. Dia membesarkan Pangeran Julian didampingi sahabat setianya, Uskup Valdespino. Di ujung usianya, Raja baru mengakui bahwa ia dan Valdespino memiliki kecenderungan untuk menyukai sesama. Itulah alasan sebenarnya kenapa Raja tidak mau menikah lagi.

Bagi Valdespino sendiri, kecenderungan itu pernah menjadi masalah. Tetapi ia kemudian juga belajar bahwa cinta adalah karunia Tuhan. Sepanjang tidak berurusan dengan “hasrat jasmaniah”, Valdespino sadar bahwa ia dapat mencintai sahabatnya dan Tuhan sekaligus.

Sebenarnya pesan moral Origin cukup jelas: agama jangan digunakan untuk saling menghancurkan karena merasa bahwa keyakinannya paling benar. Kalau sebuah agama berani mempertanyakan tuhannya–dalam cerita ini digambarkan sebagai “jika tuhan tidak diperlukan dalam penciptaan kehidupan”–maka sebenarnya tidak ada yang membedakan antarmanusia.

Btw, saya mau juga ah punya artificial intellegent seperti Winston. Bisa merangkap tugas dari asisten sampai teman ngobrol. Selalu ada setiap saat. Nggak pake “lagi capek”, “lagi ada kerjaan”, dan segambreng alasan manusiawi lainnya. Menarik, kan… 😄 

Masalalu Selalu Aktual

Masalalu Selalu AktualIni adalah kumpulan beberapa tulisan P. Swantoro di Harian Kompas periode 1978-1989. Iya, tidak salah ketik. Tulisan P. Swantoro zaman saya masih batita. Jadi, memang informatif banget. Apalagi untuk orang-orang yang tidak tahu kejadian itu–entah belum lahir, entah males belajar sejarah.

Dari baca buku ini saya baru tahu bahwa Gina Lollobrigida itu kalau marah meledak-ledak mengerikan, misalnya. Atau, ada juga tulisannya tentang Usia Para Negarawan, yang secara ringan membicarakan Napoleon Bonaparte, Winston Churchill, Gamal Abdel Nasser, Jawaharlal Nehru, Tito (bukan Karnavian, lho), dan sebagainya. Lalu disimpulkan bahwa dalam daftar orang-orang yang secara otentik berumur panjang ternyata tidak satupun nama negarawan ada di dalamnya. Jadi, kira-kira kesimpulan saya begini: nggak usahlah jadi negarawan. Umurnya relatif singkat dan terpakai untuk mikirin negara. Baca lebih lanjut

Madinah

MadinahSekali ini saya setuju dengan Gus Mis, panggilan akrab Zuhairi Misrawi, penulis buku Mekah dan Madinah: Madinah memang ngangeni. Saya baru sekali ke sana, dan dibandingkan dengan Mekah, saya lebih ingin kembali ke Madinah. Ingin menikmati berjalan di sela-sela bangunan tinggi menuju Nabawi, indahnya langit subuh yang biru di balik menara, sejuknya berdiam di dalam masjid…. Sayangnya segala urusan terkait haji dan umroh memang terpusat di Mekah.

Terlepas dari keluhan saya soal pengaturan masuk Raudhah yang tidak jelas, pengaturan dari travel yang tumpang tindih, dan sebagainya, saya sangat menikmati hari-hari berada di Madinah. Saya pikir idealnya memang beribadah dulu di Mekah, baru pulangnya ke Madinah. Jadi kita bisa mengendapkan dan merenungkan segala ibadah yang sudah dilakukan di tempat yang tenang. Dan mungkin bisa lebih lama sehingga sempat melakukan salat Arba’in. Baca lebih lanjut

The Lowland

the lowland-jhumpa lahiriBela sama sekali tidak menyangka bahwa lelaki yang membesarkannya selama ini bukanlah ayahnya. Subhash sangat sayang kepadanya. Bahkan Bela merasa lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan ibunya, Gauri. Jadi, ketika Gauri meninggalkan mereka, bagi Bela tidak ada masalah.

Ketika Bela hamil dan kembali ke rumah Subhash, Subhash memutuskan untuk mengakhiri kebohongan yang dirasanya menimbulkan masalah-masalah di masa kini. Bela syok dan kabur.

Tapi Bela jadi paham mengapa hubungannya dengan Gauri dulu tak pernah mesra. Ia paham apa yang dirasakan Gauri saat kehilangan suami pertamanya, adik Subhash, sementara dirinya sedang mengandung Bela. Ia paham betapa baiknya Subhash: menjadikan Gauri sebagai istri, membawanya ke Amerika karena mertua Gauri–orangtua Subhash dan Udayan–tidak menerima Gauri setelah Udayan ditembak mati, membesarkan Bela dengan penuh kasih bahkan ketika Gauri meninggalkan mereka. Bela akhirnya kembali kepada ayahnya. Baca lebih lanjut

Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim

MekkahSatu hal yang langsung menohok saya saat membaca buku ini adalah ungkapan Gus Mis–panggilan Zuhairi Misrawi, bahwa orang yang sudah naik haji kerap tidak menunjukkan transformasi sosial. Padahal Islam, yang diantaranya ditunjukkan oleh sejarah kota Mekkah, membawa ajaran tanpa kekerasan, tanpa paksaan, dengan toleransi, dan lain sebagainya. Tetapi orang-orang yang sudah pernah ke sana, justru banyak yang menunjukkan kesempitan dalam beragama.

Saya setuju. Berapa banyak orang yang sekarang ini bersedia menumpahkan darah dan menghancurkan sesuatu atas nama agama? Padahal dahulu Nabi Muhammad SAW mengambil alih kota Mekkah dari kaum pagan justru tanpa meneteskan darah. Ia melarang rombongannya melakukan kekerasan. Itu saat menghadapi penyembah berhala, lho. Mengapa kita yang sama-sama menyembah Tuhan Yang Mahaesa kok justru sibuk saling menyerang?

Membaca buku ini mengingatkan kembali bahwa kita tidak tahu tentang banyak hal. Kita tahu sedikit, tetapi sudah merasa tahu segalanya. Dan, yang paling parah adalah merasa berhak menghancurkan orang lain atas dasar pengetahuan kita yang terbatas itu. Serem, ya, diri kita ini… Baca lebih lanjut

#KamiAhok

#KamiAhokSekali ini saya menulis buku saya sendiri… Buku kami berdelapan belas, maksudnya. ^_^

Delapan belas orang menulis tentang satu orang saja: Ahok. Bayangkan betapa hebohnya buku ini! Delapan belas orang, delapan belas pemikiran, sudut pandang, gaya bahasa, dan entah delapan belas hal apalagi yang ada di buku ini. Karenanya kami menyebut buku ini Bhinneka Tunggal Ika versi mini.  Baca lebih lanjut